Selasa, 29 September 2009

Papua dan Kutukan Alam
Oleh
Arief Oka
Sabtu, 17 November 2007


Apakah sumber daya alam seperti minyak dan tembaga merupakan berkah atau kutukan? Pengalaman di seluruh dunia selama 500 tahun terakhir menunjukkan bahwa sumber daya alam lebih sering merupakan kutukan. Para penakluk Spanyol menghancurkan peradaban Aztec dan Maya di Amerika Latin karena ingin menguasai emas mereka. Pendatang dari Eropa menghancurkan suku-suku Indian di Amerika Utara untuk memperoleh berang-berang, mink, kerbau, maupun bercocok-tanam di atas tanah subur di kawasan Midwest.
Kelompok-kelompok dan sekte-sekte Muslim saling membunuh demi mengeksplorasi dan menjual minyak yang berada di wilayah Timur Tengah. Berlian dan emas dan tembaga, kayu dan berbagai kekayaan alam yang teramat berharga itu saat ini menjadi penyulut api permusuhan di benua Afrika.
Bila benar bahwa negara-negara dengan kekayaan alam yang melimpah itu dikutuk, maka Papua merupakan bagian wilayah Negara Indonesia yang paling menderita akibat kutukan itu. Bila dihitung per kapita, penduduk Papua saat ini � sekitar dua juta penduduk asli dan tujuh ratus ribu pendatang � seharusnya merupakan penduduk terkaya di Indonesia dihitung dari kekayaan alam yang melimpah di wilayah tersebut.
Apakah para penduduk itu menikmati keuntungan yang diperoleh dari sumber daya alam yang dieksplorasi dari bumi tempat mereka hidup? Jelas tidak. Para penikmat utama kekayaan bumi Papua adalah pemerintah Indonesia di Jakarta, perusahaan-perusahan asing yang telah dianugerahi konsesi untuk mengeruk tembaga (Freeport-MacMoran), dan minyak (BP), dan penduduk non Papua yang secara ilegal mengekspor kayu dan berbagai hasil alam lainnya.
Tanpa perubahan kebijakan yang radikal, masa depan Papua mudah ditebak. Perkosaan terhadap alam Papua akan terus berlanjut dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi hingga salah satu pusat keragaman biologi dan budaya yang masih tersisa di bumi itu akan hancur dalam waktu kurang dari satu abad. Para pribumi Papua akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah. Para orang Jawa, Bugis, Cina, dan �orang asing� lainnya yang telah mengkoloni Papua akan saling bunuh untuk mengangkangi 100.000 hektare hutan yang masih tersisa untuk disulap menjadi perkebunan kelapa sawit.

4 Langkah
Pengalaman di berbagai wilayah lain di dunia menunjukkan hanya ada satu cara untuk mengubah kekayaan alam Papua dari kutukan menjadi berkah. Cara itu terdiri atas empat langkah.
Pertama, adalah mendeklarasikan moratorium berjangka 50 tahun yang dapat diperbarui terhadap kegiatan-kegiatan eksplorasi baru dan proyek-proyek pengolahan sumber daya skala besar.
Proyek-proyek Freeport-MacMoran dan BP menghasilkan uang yang jauh lebih banyak dibanding jumlah yang diperlukan oleh penduduk Papua saat ini untuk jangka waktu 50 tahun ke depan.
Kedua, adalah menghentikan arus imigran baru. Di Papua sudah cukup banyak orang untuk melindungi kekayaan alam di wilayah itu dan menjual hasil pengolahan sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan demikian, Papua akan menjadi Taman Nasional yang terbesar dan paling berharga di wilayah Indonesia.
Sesungguhnya Papua dapat menjadi cadangan alam dan preservasi budaya terbesar di dunia. Hal ini merupakan impian yang pantas dibanggakan, suatu mimpi yang belum pernah dicapai oleh negara manapun. Misi bangsa dan pemerintah Indonesia bisa menjadi melindungi kawasan ini dari kegiatan eksplorasi yang sewenang-wenang dan tidak berkelanjutan. Termasuk di dalamnya adalah mencegah para misionaris dari semua kepercayaan dan membiarkan penduduk Papua pribumi dan non-pribumi untuk memeluk kepercayaan mereka tanpa pengaruh dari luar.
Ketiga, membentuk suatu Trust Fund untuk mengumpulkan 100% pajak, royalty, dan berbagai pendapatan lainya dari konsesi-konsesi yang ada. Langkah ini telah dilakukan dengan
sukses di Norwegia, dan beberapa negara lain telah menerapkan pendekatan yang sejenis. Yang paling baik adalah bila para pengampu Trust Fund terdiri atas para warga Indonesia dengan karakter dan komitmen yang luar biasa, yang mampu melindungi Papua demi kepentingan kemanusian secara umum, bukan hanya untuk kepentingan bangsa Indonesia.
Para pengampu ini akan ditugaskan untuk menginvestasikan aset-aset Trust Fund dengan bijaksana dalam berbagai asset-aset internasional yang berhasil dengan baik di tingkat global. Para pengampu juga ditugaskan untuk menggalang dana untuk mendukung pengembangan sosial-budaya penduduk papua, mulai dari pendidikan gratis tapi tidak wajib hingga ke tingkat perguruan tinggi. Trust Fund juga akan mendanai pasukan keamanan yang akan menjaga bumi Papua dari kegiatan eksplorasi alam yang tidak berijin.
Langkah keempat, adalah menghilangkan dua aparatur pemerintahan setingkat provinsi, yang saat ini berlomba-lomba mengeksplorasi sumber daya alam di wilayah mereka masing-masing dan menggantinya dengan satu pemerintah wilayah yang bergabung propinsi Papua dan Papua Barat. Sebagaimana pemerintah regional lain di Indonesia akan bertanggungjawab terhadap pengaturan kegiatan-kegiatan ekonomi yang tidak berbasis pada sumber daya alam sesuai dengan hukum yang berlaku di seluruh Indonesia.
Melalui otonomi regional ini warga Papua akan menjadi sebebas seperti warga Indonesia lainnya untuk menjalankan berbagai kegiatan usaha yang tidak tergantung pada ekploitasi yang tidak berkelanjutan terhadap sumber daya alam atau melibatkan penyingkiran pribumi Papua. Perkembangan ekonomi yang mampu menyediakan lapangan kerja bagi warga Papua yang ingin hidup dalam iklim ekonomi modern dimungkinkan tanpa tambahan mega proyek yang dijalankan oleh orang luar.
Pengembangan usaha di bidang ekoturisme dan ekoriset saja mungkin sudah mampu mendukung perikehidupan warga Papua agar menjadi setara dengan warga Indonesia lainnya. Kegiatan-kegiatan eksploitasi sumber daya skala kecil dengan intensitas rendah masih dimungkinkan, namun warga pribumi Papua jangan sampai dipaksa untuk memasuki kehidupan ekonomi modern. Mereka mewakili sumber daya manusia dan kultural yang yang sangat bernilai di dunia yang sebagian besar suku-suku pra-modern telah musnah ditelan jaman. Biarkanlah mereka menjadi modern sesuai dengan keinginan mereka.
Mungkinkah visi dan misi ini menjadi nyata? Apakah Indonesia punya kemauan politik untuk melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh banyak negara lain?
Mungkin tidak. Keserakahan dan nasionalisme dan perselisihan antaragama tak terkendali. Namun kita masih memiliki kesempatan di Papua. Melindungi wilayah ini semestinya lebih mudah daripada melindungi wilayah lain di Kalimantan, atau di kawasan Amazon Brasil atau Afrika daerah khattulistiwa. Menangislah demi kemanusiaan karena perampokan kekayaan alam Papua oleh sesama umat manusia akan terus berlanjut seganas penjajahan lainnya yang pernah terjadi di atas muka bumi. Hal itu bukan hanya merupakan nasib orang Papua, kutukan atas kehidupan di atas kekayaan alam nan melimpah. Hal itu merupakan kejahatan yang dilakukan oleh manusia atas manusia lain yang terjadi di depan mata kita.

Penulis adalah seorang ekonom.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar